Don’t judge me
.
.
Enjoy Read guys…….
.
.
Tubuh gadis itu bermandikan peluh.Wajah itu terlihat
lelah, terpatri dengan jelas dibawah terang benderang bulan purnama. Mata itu
sayu dan kelam menggambarkan rasa ketakukan yang besar, berlari sekuat tenaga
di kota tua yang sepi bak kota mati.
‘Kau takkan bisa lari dariku……’
‘Kau
takkan bisa lari dariku…..’
Perkataan itu terngiang dari pikiran nya selama
berlari. Perkataan yang sungguh menyesakkan. Sejenak dia berhenti di disebuah gang kecil.
Menghirup okisgen sebanyak dia bisa. Lelah.
Setelah
memastikan keadaan dan sekiranya aman, gadis itu jatuh terduduk di gang sempit
itu.Beristirahat sejenak, menselonjorkan kaki mungilnya dan bersandar pada
tembok gedung. Tak luput bibirnya terus mengumandangkan doa. Dibawah dinginnya
malam yang semakin larut, gadis itu berdoa kepada Tuhan untuk keselamat dirinya
dari kejaran seseorang yang dulu dia cintai. Dulu.....
Sebelum seseorang itu berubah……
Menakutkan…..
.
.
.
.
Tiiiiiinnnnn tiiiiinnnn…
Tubuh itu terlonjak kaget tatkala mendengar suara
klakson, sepertinya doa sang gadis belum tersampaikan. Mobil sport berwarna
hitam terlihat dari ujung gang itu. Dari jendela mobil terlihat sesosok ‘itu’
menyeringai kepada sang gadis. Mata hitam kelamnya sungguh membuat siapa saja
ketakutan.
Sang gadis yang baru beberapa menit lalu duduk disana
terpaksa berdiri, mengambil ancang-ancang untuk pergi dari tempat itu. Kemudian
berlari menjauh menyusuri gang sempit.
Sang pria yang berada dimobil sedari tadi tak
bergerak. Mata tajamnya terus memperhatikan sang gadis yang sedang berlari
menjauh. Jauh hingga tak dapat lagi dilihat. Bibir itu melengkungkan senyum.
Senyum mengerikan….
‘’kau ingin bermain-main denganku ya… baiklah sayang,
aku ikuti permainanmu itu.” Ucapnya entah pada siapa. Seketika itu mobil
tersebut bergerak kembali.
.
.
Setelah beberapa meter berlari,akhirnya gang sempit
itu dia lewati dan sekarang dirinya berada di perepatan jalan raya yang cukup
ramai. Tubuh itu sudah tak kuat menahan rasa lelah. Telapak kakinya terasa
panas karena dirinya bertelanjang kaki. Lari nya pun semakin melambat.
Bingung.. ya bingung harus kemana lagi dia berlari.
Dia sungguh ketakukan luar biasa. Dikota kecil yang sepi ini sungguh memudahkan
sang pria itu menangkapnya. Sebenarnya, tak ada lagi celah untuk dirinya
bersembunyi dan berlari. Tapi dirinya tetap nekat dan percaya pasti akan ada
jalan untuk dirinya keluar dari penderitaan ini.
.
.
.
Sudah jam 2 pagi. Tetapi sang gadis belum juga menemukan titik terang kemana dia akan
pergi. Matanya sembab karena terus-terusan menangis. Diiringi angin malam yang
semakin menusuk kulit putihnya., Dia tetap berjalan ditepi jalan raya yang
sunyi dan sesekali terisak pelan. Hingga dirinya melihat sesuatu…
Sebuah taksi….
Mata nya terbelalak. Apakah dirinya tak salah melihat?
Ya didepannya ada sebuah taksi yang berjalan pelan
hampir melewatinya. Tanpa pikir panjang sang gadis pun melambai-lambaikan
tangannya tanda dia menyuruh taksi itu untuk berhenti.
Taksi tersebut akhirnya berhenti tepat disamping sang
gadis. Dan langsung saja dia menaiki nya.
“bawalah aku menjauh dari kota ini.” Sang gadis
berujar kepada sopir taksi tersebut. Sang supir hanya menganggukan kepala tanda
mengerti dan akhirnya melaju membelah jalan kota itu.
Didalam taksi dirinya merenung dengan apa terjadi
selama ini. Hatinya menjerit pilu kala nasib nya yang kacau seperti ini. Hanya
ada rasa takut dan trauma yang selama beberapa bulan ini dia rasakan. Kedua
orangtua, orang yang dicintai dan sahabat-sahabat baiknya harus meregang nyawa
karena orang itu.
Dirinya bersandar nyaman sambil memejamkan mata.
Tetapi tiba-tiba tanpa sadar dirinya kembali membayangkan kejadian tersebut
didalam taksi bak potongan-potongan film yang saling menyatu….
.
.
.
.
.
Flashback…
Bel berbunyi dengan nyaring menandakan waktu untuk beristirahat. Semua orang yang berada
dikelas berbondong-bondong keluar ruangan dengan tujuan yang berbeda mungkin ke
kantin,toilet,perpustakaan atau taman belakang sekolah. Dan ada juga sebagian yang
masih betah dikelas hanya sekedar
mengobrol atau bermain laptop. Sementara Nela –gadis itu- bergegas menuju
toilet setelah sebelumnya menolak ajakan teman-temannya untuk ke kantin.
Lorong menuju toilet itu cukup sepi….
Berada di ujung gedung yang berdempetan dengan tembok
batas sekolah…
Maklum jika ditempat ini lumayan sepi. Karena untuk
jam sekarang, kebanyak siswa pergi ke kantin untuk sekedar mengganjal perut
setelah berjam-jam berkutat dengan pelajaran.
Nela akhirnya sampai di toilet khusus wanita. Sebelum
dirinya membuka pintu tersebut,tiba-tiba hawa dingin menyergapnya. Entah
perasaannya atau apa,dirinya seperti diikuti dan diamati oleh seseorang. Tetapi
dirinya cepat menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir fikiran was-was nya itu.
setelah meyakinkan diri tidak ada apa-apa akhirnya dia membuka pintu.
Ceklek…
Dingin yang dirasakan. Dengan cepat Nela menuju
wastafel untuk mencuci muka-sekedar menghilangkan kantuk- tetapi ketika keran
berkarat itu diputar, tak ada air yang keluar. Dia mencoba keran yang lain,
tetapi tetap tak ada air setetes pun. ‘ apa
salurannya mempet ya?’ fikirnya.
Setelah tak ada lagi piilihan, akhirnya dia menuju
bilik wc berharap mendapatkan air di bak ataupun di ember.
TAP
Pintu bilik itu dibuka. Tetapi……
Tubuhnya menegang seketika….
NELA
POINT OF VIEW
Seketika tubuhku menegang, jantungku berdetak hebat.
Mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tubuh itu…
Berlumuran darah…..
Satu bola mata yang terlepas….
Kampak yang menancap tepat di kepala….
Serta lidah yang menjulur seperti terpotong…
Gadis itu….
KARLINA!
“ARRRRRGGGGHHHHHHHHH….’’ Aku berteriak kencang,
seketika itu juga air mataku tumpah. Tubuhku gemetar hebat dan menangis
sekencang-kencangnya.
Duk duk duk…
Suara pijakan sepatu bergema semakin dekat menuju
tempatku. BRAKK…
Pintu didobrak dengan oleh salah satu guru. Aku
terbangun dan langsung memeluk sang guru-bu ira-.
“ada apa ada apa?” beberapa murid yang datang bertanya
kepadaku. Oh sungguh, padahal tempat ini cukup sepi tadi,dan jarak dari
kerumunan siswa dan toilet itu lumayan jauh. Apakah aku terlalu kencang
berteriak? Masih dalam dekapan bu Ira aku menunjuk kesalah satu bilik toilet
dengan mata terpejam.
“itu…….K-karlin-a.”jawabku terbata. Semuanya langsung
menuju bilik itu. semua nya terbelalak ngeri termasuk Bu Ira. Murid wanita yang
berada disana menjerit histeris melihat tubuh yang tergeletak tak berdaya
dihadapan mereka termasuk para murid pria. Kurasakan pelukan bu Ira mengerat
dan menegang. Dia terlihat sangat syok.
Tap..tap..tap..
Suara langkah kaki kembali terdengar riuh dari luar.
Itu adalah guru-guru dan satpam juga sebagian murid lain. aku tak sempat
melihat apa yang terjadi berikutnya karena tiba-tiba pandanganku mengabur dan
gelap seketika…..
.
.
.
Gelap yang aku rasakan….
Perlahan ku buka mataku, sinar cahaya dari lampu
langsung menusuk retina. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali mencoba
menyadarkanku sepenuhnya. Kepala ini masih terasa pusing. Setelah aku sadar
sepenuhnya barulah aku mengedarkan pandangan kesekeliling. Ah,, ternyata aku di
UKS.
CEKLEK….
“ah kau sudah sadar ya? Apa masih terasa pusing?” Bu Sri –guru bahasa inggris sekaligus penjaga
uks- bertanya padaku. Dengan senyum lemah aku mengangguk.
“iya ibu sedikit masih pusing.” Aku mencoba bangun dan
merubah posisiku menjadi terduduk.
Bu Sri menghampiriku sambil membawa teh hangat dan
menyodorkannya kepadaku. Aku mengambil teh itu dan meminumnya. Bu Sri membawa
kursi dan duduk di pinggir ranjangku.
“apa kau merasa aneh dengan kejadian akhir-akhir ini?”
Bu Sri memicingkan mata nya padaku. Sepertinya dia benar-benar kebingungan.
“dulu… sahabat baikmu tewas mengenaskan di ujung taman sekolah dekat pohon
beringin. setelah itu,kejadian serupa pun sama. beberapa minggu kemudian Mifta kelas 2ipa 3 mendadak
sering berhalusinasi,berteriak tak jelas dan akhirnya menjadi gila. Dan tadi
pagi..Karlina.” Bu Sri menghela napas mengingat kejadian selama ini.
Ya apa yang dikatakan Bu Sri itu benar adanya
akhir-akhir ini. Dimulai dari Sahabat baikku –Aldo- dia adalah sahabat
sekaligus sudah ku anggap adik karena dari kecil kita sudah berteman karena
rumahku dan rumahnya yang bersebelahan. kami sangat dekat. Entahlah, Padahal sehari sebelum tewas
dia terlihat biasa saja tak ada tanda apapun. Malahan dia masih bercanda dengan
ku di kantin. Hah…. Mengingat kembali kenangan itu
membuatku sangat sedih. Masih terbayang bagaimana ibu Aldo menangis
meraung-raung menahan sesak tatkala melihat jasad Aldo yang berlumuran darah
dibawa kerumah sakit untuk divisum.
Dan untuk kejadian Mifta juga Karlina, Entahlah apakah
aku harus menyebutnya teman atau musuh. Kedua orang itu selalu saja
menggangguku. Aku tak tau apa motif mereka selalu menggangguku. Tapi hampir
setiap hari aku selalu dijadikan korban kejahilannya. Aku tak pernah
membalasnya karena aku takut mereka akan lebih menjadi-jadi menjahiliku. Kedua
orang itu cukup disegani disekolah ini karena orang tua mereka termasuk donator
terbesar disekolah ini.
Dan kejahilan terparahnya adalah sehari sebelum Mifta
menjadi Gila. Mereka mengurungku di gudang belakang sekolah yang kumuh dan
memasukkan beberapa ekor tikus putih kedalam gudang.aku menangis dan berteriak
kencang antara ketakutan dan merasa geli dengan beberapa ekor tikus yang
berkeliaran. Tapi setelah beberapa jam, terdengar langkah sepatu menuju pintu
gudang dan menggeser selot pintu. Setelah itu langkah kaki tersebut kembali
terdengar dan menjauh. Aku langsung berlari keluar dan mengejar orang yang
menolongku. Tapi nihil, orang itu sudah lenyap pergi.
Malam itu aku langsung bergegas pulang. Dan di pagi
Hari kemudian aku mendengar berita bahwa Mifta terkena Depresi…….
Dan gila….
.
.
.
.
Setelah beberapa jam aku di UKS, kuputuskan untuk
pulang kerumah. Lagipula keadaan sekolah sedang tidak stabil gara-gara kejadian
tadi. Aku diantar pacarku –Adit- dengan Ferarri
California merahnya. Ya, mendengar mobilnya saja sudah berpikir bahwa pacarku
sangat kaya kan?
Memang, dia sangat kaya raya, tidak bekerja pun
sepertinya dia akan tetap kaya. Ayah nya adalah seorang perdana mentri di
Kanada. Mempunyai banyak perusahaan Elektronik terkenal di Asia dan Amerika
sana. Dan ibunya seorang designer handal di Kanada. Jadi jangan heran dengan
mobil-mobil mewahnya yang mungkin tak seberapa. Padahal minggu kemarin dia
diberi Porsche seri 2.7 tiptronic
oleh ayahnya. Dan beberapa bulan yang lalu membeli Audi Putih 2.0 TFSI Quattro yang harganya selangit. Tapi sekarang?
Oh, aku tak bisa membayangkan bagaimana kaya nya pacarku.
“kata temanku kau tadi dibawa ke UKS, kau tak apa?”
sambil menyetir dia memandangku penuh khawatir.
“ya, tadi aku benar-benar syok liat mayat Karlina..”
aku menjawab sambil ketakutan membayangkan kembali tubuh Karlina yang tak
berdaya.
“maaf tadi aku tak sempat menjengukmu, tadi aku sedang
ulangan.”
“tak apa, aku sudak mulai baikkan kok.” Aku menghela
nafas, “ Dit besok mau ikut ga ke pemakaman Karlina?”
“mungkin, tapi ga tau sih. Besok papa mama pulang
soalnya. Aku nganterin kamu aja deh.”
“yaudah gapapa.” Jawabku akhirnya.
.
.
.
.
Siang yang terik. Setelah selesai acara pemakaman, aku pamit pada
teman-temanku yang ada disana dan bergegas pergi dari tempat itu. sedari tadi
hatiku tak tenang. Seperti ada yang sedang memperhatikanku dari jauh
ditengah-tengah kerumunan orang yang sedang menghadiri pemakaman Karlina.
Sedikit berlari ketika sampai di tepi jalan. Dan
memberhentikan taksi.
Di dalam taksi hatiku kembali kalut. Dibelakang taksi
yang ku tumpangi ada sebuah bmw hitam yang seperti mengikutiku. Tapi aku
mencoba tak peduli dan tak menghiraukan kembali mobil itu dengan memejamkan mata.
Aku tiba dirumah menjelang sore. Ketika taksi itu
melaju kembali, betapa kagetnya aku melihat mobil yang tadi mengikutiku berada
diseberang rumahku. Ku perhatikan mobil itu. tak ada tanda-tanda seseorang akan
keluar. Samar yang kulihat disana seorang lelaki yang menatapku. Aku tak
melihat jelas wajahnya karena matanya tertutupi kacamata hitam. Aku bergidik
sekilas, lalu tanpa piker panjang segera menuju rumah.
.
.
.
.
.
Pagi menjelang,suasana rumah sedikit hening. aku keluar dari kamar sudah dengan
keadaan rapi.Bersiap untuk sarapan.
“ayo dek, sarapan dulu..’’ibu datang membawa mangkok
besar berisikan nasi goreng.
“ayah dan adik kemana bu?”
“ayah masih tidur, hari ini dia cuti kerja. Kalau
adikmu dia masih mandi.” Jawab ibu sambil menyicikan susu ke gelas-gelas.
Aku mendudukan tubuhku di kursi meja makan, mencomoti
roti dan meminum susu.
“bu hari ini aku mau belajar bareng sama Adit di
perpus kota.” Aku berbicara sambil menyantap nasi goreng.
“Pacarmu itu ya? Kenapa ga disini aja?”
“katanya sambil cari-cari buku disana..”
Ibu mengangguk-anggukan kepala. “ dek, bagaimana
keadaan Anhar?.”
Deg…
Nama itu,
Orang yang dulu ku cintai…
Hingga sekarang…
“ba-baik kok Bu,” jawab ku singkat sambil terbata.
Entahlah kenapa ibu malah mengungkit dia.
“yaudah bu aku berangkat ya… bye.” Aku menyambar tas
dan berjalan cepat menuju pintu rumah.
.
.
.
.
Hari ini kelasku praktek komputer. Dan sekarang aku
dan teman-teman berada di Lab. Berbincang-bincang sebelum Pa Joseph datang.
“gue makin takut aja ih akhir-akhir ini gegara
kematiannya Karlina. sekolah kita jadi keliatan angker “ aku mendengar suara Nanda yang berada dibelakangku.
Sedang berbisik dengan Fahmi tapi masih terdengar jelas oleh ku.
“menurut lo, siapa yang ngelakuin ini?” Fahmi
menyahut.
“menurut gue ya, ga mungkin kalo orang luar. Sekolah
ini kan ketat banget pengawasannya, “
“nah itu dia,” fahmi menjentikan jari, “sekolah ini
keamanan nya ketat banget, setiap ruangan dan lorong ada cctv. And,aneh nya pas
kejadian Aldo juga Karlina tuh cctv mati gitu aja. pastinya ada yang membobol
tuh cctv sewaktu kejadian itu.” Ucap Fahmi bersungut-sungut tatkala membeberkan
analisa yang menurutku ada benarnya.
Aku terus mendengarkan mereka berbicara sambil berpura-pura mengutak-atik computer.
“Nda,sebenernya soal pembunuhan itu gue tau sesuatu.
tapi…..” fahmi menggantungkan kalimat antara ragu dan bimbang untuk
menjelaskannya.
“sesuatu apa Mi? ayolah cerita ke gue..gue janji ga
bakalan kasih tau siapa-siapa.” Ucap Nanda penasaran. Tak ada jawaban dari
Fahmi. Mungkin dia ragu.
“gue sbenernya ngeliat langsung orang yang membunuh Karlina.” ucap Fahmi dengan sangat pelan.
Aku mendongakkan kepalaku. kaget ketika mendengar
ucapan Fahmi, aku penasaran. Perlahan aku menegakkan badan dan menajamkan
pendengaranku. Masih membelakangi mereka. Mereka –Nanda dan Fahmi- tak
menyadari jika sedari tadi aku mendengarkan pembicaraannya.
“siapa?” nanda bertanya.
“dia-“ brakkkk… sebelum Fahmi meneruskan ucapannya,
Pak Joseph datang.
“maaf sedikit telat. Mari kita mulai, hari ini kita
akan mencoba mendesain blog..”
Semua hening mendengar penjelasan dan Pak Joseph dan
mulai berkutat dengan computer masing-masing. Nanda dan Fahmi berhenti
berbicara. ‘hah padahal dikit lagi aku
mengetahuinya’.
.
.
.
.
jam istirahat tiba. Aku keluar membawa setumpuk buku tugas kelasku. Pa Agus menyuruhku menyimpannya di ruang guru.
setelah aku nenyimpannya aku bergegas pergi dari ruang guru. megedarkan pandangan ke penjuru lorong sambil berjalan menuju kantin. Sunyi.
Ya tiga hari setelah insiden Karlina itu, keadaan sekolah cukup memburuk. Kebanyakan siswa enggan untuk meninggalkan ruangan kelasnya walaupun pada jam istirahat. Toilet untuk murid perempuan pun sekarang dipindahkan ke toilet guru sementara pasca kejadian itu. karena toilet perempuan masih disegel oleh pihak sekolah dan polisi. Polisi masih menyelidiki kasus ini dan belum ada kepastian.
brukkk....
"awww.." aku mendesis sakit. Tubuhku menabrak sesuatu diihadapanku sehingga aku terjatuh.
"Kau tak apa?" ku dongakkan kepalaku. Ternyata aku menabrak Anhar.
"E-eh iya. maaf ya aku tadi melamun jadi ga lihat hehe.." jawabku terbata. Dan bergegas pergi.
Dia Anhar. Mantan pacarku. Aku berpacaran semenjak masuk SMA. dulu, ketika kelas satu kami sekelas. ketika masa pacaran, dia sungguh perhatian padaku, mengantar jemputku, setiap akhir pekan atau liburan
selalu mengajakku berkencan. Berbeda dengan Adit yang sedikit dingin dan agak kaku. satu tahun aku berpacaran dengannya, tetapi sayang aku dan dia harus mengakhiri hubungan ketika menginjak kelas dua. dia terlalu posesif, cemburuan dan terlalu mengekangku. Entahlah apa yang terjadi. tapi sifat itu dimulai dua bulan sebelum putus. dia jadi berlebihan dan selalu mengikutiku kemanapun, kadang selalu marah ketika aku pergi tanpa pamit padanya atau dekat dengan cowok lain sekalipun itu Aldo yang notabene nya adalah sahabatku. aku frustasi dan menjadi risih jadinya. akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri hubungan ini. dia menyetujuinya walau berat. Dan setelah putus, dia menjadi sesosok yang misterius. aku jarang melihatnya disekolah.
Satu hal yang tak pernah berubah dariku ketika melihatnya.....
aku selalu berdebar....
aku masih mencintainya.....
sampai saat ini.
to be continue.........
hayy hay ketemu lagi sama gue wkwkwk
entahlah setan apa yang merasuki pikiran gue sampe buat yang ginian. hehe
ceritanya gajekah? jelek? atau gampang ketebak?
plis komen okeyyyyyy....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar