Kamis, 05 Juni 2014

LOVE OR OBSESSED ? Part 1

Don’t judge me
.
.
Enjoy Read guys…….
.
.
Tubuh gadis itu bermandikan peluh.Wajah itu terlihat lelah, terpatri dengan jelas dibawah terang benderang bulan purnama. Mata itu sayu dan kelam menggambarkan rasa ketakukan yang besar, berlari sekuat tenaga di kota tua yang sepi bak kota mati.


‘Kau takkan bisa lari dariku……’       
‘Kau takkan bisa lari dariku…..’


Perkataan itu terngiang dari pikiran nya selama berlari. Perkataan yang sungguh menyesakkan.  Sejenak dia berhenti di disebuah gang kecil. Menghirup okisgen sebanyak dia bisa. Lelah.
 Setelah memastikan keadaan dan sekiranya aman, gadis itu jatuh terduduk di gang sempit itu.Beristirahat sejenak, menselonjorkan kaki mungilnya dan bersandar pada tembok gedung. Tak luput bibirnya terus mengumandangkan doa. Dibawah dinginnya malam yang semakin larut, gadis itu berdoa kepada Tuhan untuk keselamat dirinya dari kejaran seseorang yang dulu dia cintai. Dulu.....


Sebelum seseorang itu berubah……

Menakutkan…..
.
.
.
.
Tiiiiiinnnnn tiiiiinnnn…
Tubuh itu terlonjak kaget tatkala mendengar suara klakson, sepertinya doa sang gadis belum tersampaikan. Mobil sport berwarna hitam terlihat dari ujung gang itu. Dari jendela mobil terlihat sesosok ‘itu’ menyeringai kepada sang gadis. Mata hitam kelamnya sungguh membuat siapa saja ketakutan.
Sang gadis yang baru beberapa menit lalu duduk disana terpaksa berdiri, mengambil ancang-ancang untuk pergi dari tempat itu. Kemudian berlari menjauh  menyusuri gang sempit.
Sang pria yang berada dimobil sedari tadi tak bergerak. Mata tajamnya terus memperhatikan sang gadis yang sedang berlari menjauh. Jauh hingga tak dapat lagi dilihat. Bibir itu melengkungkan senyum. Senyum mengerikan….


‘’kau ingin bermain-main denganku ya… baiklah sayang, aku ikuti permainanmu itu.” Ucapnya entah pada siapa. Seketika itu mobil tersebut bergerak kembali.
.
.


Setelah beberapa meter berlari,akhirnya gang sempit itu dia lewati dan sekarang dirinya berada di perepatan jalan raya yang cukup ramai. Tubuh itu sudah tak kuat menahan rasa lelah. Telapak kakinya terasa panas karena dirinya bertelanjang kaki. Lari nya pun semakin melambat.


Bingung.. ya bingung harus kemana lagi dia berlari. Dia sungguh ketakukan luar biasa. Dikota kecil yang sepi ini sungguh memudahkan sang pria itu menangkapnya. Sebenarnya, tak ada lagi celah untuk dirinya bersembunyi dan berlari. Tapi dirinya tetap nekat dan percaya pasti akan ada jalan untuk dirinya keluar dari penderitaan ini.
.
.
.


Sudah jam 2 pagi. Tetapi sang gadis belum  juga menemukan titik terang kemana dia akan pergi. Matanya sembab karena terus-terusan menangis. Diiringi angin malam yang semakin menusuk kulit putihnya., Dia tetap berjalan ditepi jalan raya yang sunyi dan sesekali terisak pelan. Hingga dirinya melihat sesuatu…

Sebuah taksi….

Mata nya terbelalak. Apakah dirinya tak salah melihat?
Ya didepannya ada sebuah taksi yang berjalan pelan hampir melewatinya. Tanpa pikir panjang sang gadis pun melambai-lambaikan tangannya tanda dia menyuruh taksi itu untuk berhenti.
Taksi tersebut akhirnya berhenti tepat disamping sang gadis. Dan langsung saja dia menaiki nya.
“bawalah aku menjauh dari kota ini.” Sang gadis berujar kepada sopir taksi tersebut. Sang supir hanya menganggukan kepala tanda mengerti dan akhirnya melaju membelah jalan kota itu.


Didalam taksi dirinya merenung dengan apa terjadi selama ini. Hatinya menjerit pilu kala nasib nya yang kacau seperti ini. Hanya ada rasa takut dan trauma yang selama beberapa bulan ini dia rasakan. Kedua orangtua, orang yang dicintai dan sahabat-sahabat baiknya harus meregang nyawa karena orang itu.
Dirinya bersandar nyaman sambil memejamkan mata. Tetapi tiba-tiba tanpa sadar dirinya kembali membayangkan kejadian tersebut didalam taksi bak potongan-potongan film yang saling menyatu….
.
.
.
.
.

Flashback…

Bel berbunyi dengan nyaring menandakan waktu  untuk beristirahat. Semua orang yang berada dikelas berbondong-bondong keluar ruangan dengan tujuan yang berbeda mungkin ke kantin,toilet,perpustakaan atau taman belakang sekolah. Dan ada juga sebagian yang  masih betah dikelas hanya sekedar mengobrol atau bermain laptop. Sementara Nela –gadis itu- bergegas menuju toilet setelah sebelumnya menolak ajakan teman-temannya untuk ke kantin.
Lorong menuju toilet itu cukup sepi….
Berada di ujung gedung yang berdempetan dengan tembok batas sekolah…
Maklum jika ditempat ini lumayan sepi. Karena untuk jam sekarang, kebanyak siswa pergi ke kantin untuk sekedar mengganjal perut setelah berjam-jam berkutat dengan pelajaran.
Nela akhirnya sampai di toilet khusus wanita. Sebelum dirinya membuka pintu tersebut,tiba-tiba hawa dingin menyergapnya. Entah perasaannya atau apa,dirinya seperti diikuti dan diamati oleh seseorang. Tetapi dirinya cepat menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir fikiran was-was nya itu. setelah meyakinkan diri tidak ada apa-apa akhirnya dia membuka pintu.


Ceklek…
Dingin yang dirasakan. Dengan cepat Nela menuju wastafel untuk mencuci muka-sekedar menghilangkan kantuk- tetapi ketika keran berkarat itu diputar, tak ada air yang keluar. Dia mencoba keran yang lain, tetapi tetap tak ada air setetes pun. ‘ apa salurannya mempet ya?’ fikirnya.
 Setelah  tak ada lagi piilihan, akhirnya dia menuju bilik wc berharap mendapatkan air di bak ataupun di ember.
TAP
Pintu bilik itu dibuka. Tetapi……
Tubuhnya menegang seketika….



NELA POINT OF VIEW
Seketika tubuhku menegang, jantungku berdetak hebat. Mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang aku lihat. Tubuh itu…
Berlumuran darah…..
Satu bola mata yang terlepas….
Kampak yang menancap tepat di kepala….
Serta lidah yang menjulur seperti terpotong…
Gadis itu….

KARLINA!
“ARRRRRGGGGHHHHHHHHH….’’ Aku berteriak kencang, seketika itu juga air mataku tumpah. Tubuhku gemetar hebat dan menangis sekencang-kencangnya.
Duk duk duk…
Suara pijakan sepatu bergema semakin dekat menuju tempatku. BRAKK…
Pintu didobrak dengan oleh salah satu guru. Aku terbangun dan langsung memeluk sang guru-bu ira-.
“ada apa ada apa?” beberapa murid yang datang bertanya kepadaku. Oh sungguh, padahal tempat ini cukup sepi tadi,dan jarak dari kerumunan siswa dan toilet itu lumayan jauh. Apakah aku terlalu kencang berteriak? Masih dalam dekapan bu Ira aku menunjuk kesalah satu bilik toilet dengan mata terpejam.
“itu…….K-karlin-a.”jawabku terbata. Semuanya langsung menuju bilik itu. semua nya terbelalak ngeri termasuk Bu Ira. Murid wanita yang berada disana menjerit histeris melihat tubuh yang tergeletak tak berdaya dihadapan mereka termasuk para murid pria. Kurasakan pelukan bu Ira mengerat dan menegang. Dia terlihat sangat syok.
Tap..tap..tap..
Suara langkah kaki kembali terdengar riuh dari luar. Itu adalah guru-guru dan satpam juga sebagian murid lain. aku tak sempat melihat apa yang terjadi berikutnya karena tiba-tiba pandanganku mengabur dan gelap seketika…..
.
.
.



Gelap yang aku rasakan….
Perlahan ku buka mataku, sinar cahaya dari lampu langsung menusuk retina. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali mencoba menyadarkanku sepenuhnya. Kepala ini masih terasa pusing. Setelah aku sadar sepenuhnya barulah aku mengedarkan pandangan kesekeliling. Ah,, ternyata aku di UKS.

CEKLEK….
“ah kau sudah sadar ya? Apa masih terasa pusing?”  Bu Sri –guru bahasa inggris sekaligus penjaga uks- bertanya padaku. Dengan senyum lemah aku mengangguk.

“iya ibu sedikit masih pusing.” Aku mencoba bangun dan merubah posisiku menjadi terduduk.
Bu Sri menghampiriku sambil membawa teh hangat dan menyodorkannya kepadaku. Aku mengambil teh itu dan meminumnya. Bu Sri membawa kursi dan duduk di pinggir ranjangku.

“apa kau merasa aneh dengan kejadian akhir-akhir ini?” Bu Sri memicingkan mata nya padaku. Sepertinya dia benar-benar kebingungan. “dulu… sahabat baikmu tewas mengenaskan di ujung taman sekolah dekat pohon beringin. setelah itu,kejadian serupa pun sama. beberapa minggu kemudian Mifta kelas 2ipa 3 mendadak sering berhalusinasi,berteriak tak jelas dan akhirnya menjadi gila. Dan tadi pagi..Karlina.” Bu Sri menghela napas mengingat kejadian selama ini.



Ya apa yang dikatakan Bu Sri itu benar adanya akhir-akhir ini. Dimulai dari Sahabat baikku –Aldo- dia adalah sahabat sekaligus sudah ku anggap adik karena dari kecil kita sudah berteman karena rumahku dan rumahnya yang bersebelahan. kami sangat dekat. Entahlah, Padahal sehari sebelum tewas dia terlihat biasa saja tak ada tanda apapun. Malahan dia masih bercanda dengan ku di kantin.  Hah…. Mengingat kembali kenangan itu membuatku sangat sedih. Masih terbayang bagaimana ibu Aldo menangis meraung-raung menahan sesak tatkala melihat jasad Aldo yang berlumuran darah dibawa kerumah sakit untuk divisum.


Dan untuk kejadian Mifta juga Karlina, Entahlah apakah aku harus menyebutnya teman atau musuh. Kedua orang itu selalu saja menggangguku. Aku tak tau apa motif mereka selalu menggangguku. Tapi hampir setiap hari aku selalu dijadikan korban kejahilannya. Aku tak pernah membalasnya karena aku takut mereka akan lebih menjadi-jadi menjahiliku. Kedua orang itu cukup disegani disekolah ini karena orang tua mereka termasuk donator terbesar disekolah ini.
Dan kejahilan terparahnya adalah sehari sebelum Mifta menjadi Gila. Mereka mengurungku di gudang belakang sekolah yang kumuh dan memasukkan beberapa ekor tikus putih kedalam gudang.aku menangis dan berteriak kencang antara ketakutan dan merasa geli dengan beberapa ekor tikus yang berkeliaran. Tapi setelah beberapa jam, terdengar langkah sepatu menuju pintu gudang dan menggeser selot pintu. Setelah itu langkah kaki tersebut kembali terdengar dan menjauh. Aku langsung berlari keluar dan mengejar orang yang menolongku. Tapi nihil, orang itu sudah lenyap pergi.
Malam itu aku langsung bergegas pulang. Dan di pagi Hari kemudian aku mendengar berita bahwa Mifta terkena Depresi…….

Dan gila….
.
.
.
.

Setelah beberapa jam aku di UKS, kuputuskan untuk pulang kerumah. Lagipula keadaan sekolah sedang tidak stabil gara-gara kejadian tadi. Aku diantar pacarku –Adit- dengan Ferarri California merahnya. Ya, mendengar mobilnya saja sudah berpikir bahwa pacarku sangat kaya kan?


Memang, dia sangat kaya raya, tidak bekerja pun sepertinya dia akan tetap kaya. Ayah nya adalah seorang perdana mentri di Kanada. Mempunyai banyak perusahaan Elektronik terkenal di Asia dan Amerika sana. Dan ibunya seorang designer handal di Kanada. Jadi jangan heran dengan mobil-mobil mewahnya yang mungkin tak seberapa. Padahal minggu kemarin dia diberi Porsche seri 2.7 tiptronic oleh ayahnya. Dan beberapa bulan yang lalu membeli Audi Putih 2.0 TFSI Quattro yang harganya selangit. Tapi sekarang? Oh, aku tak bisa membayangkan bagaimana kaya nya pacarku.

“kata temanku kau tadi dibawa ke UKS, kau tak apa?” sambil menyetir dia memandangku penuh khawatir.

“ya, tadi aku benar-benar syok liat mayat Karlina..” aku menjawab sambil ketakutan membayangkan kembali tubuh Karlina yang tak berdaya.

“maaf tadi aku tak sempat menjengukmu, tadi aku sedang ulangan.”

“tak apa, aku sudak mulai baikkan kok.” Aku menghela nafas, “ Dit besok mau ikut ga ke pemakaman Karlina?”

“mungkin, tapi ga tau sih. Besok papa mama pulang soalnya. Aku nganterin kamu aja deh.”

“yaudah gapapa.” Jawabku akhirnya.
.
.
.
.
Siang yang terik. Setelah selesai acara pemakaman, aku pamit pada teman-temanku yang ada disana dan bergegas pergi dari tempat itu. sedari tadi hatiku tak tenang. Seperti ada yang sedang memperhatikanku dari jauh ditengah-tengah kerumunan orang yang sedang menghadiri pemakaman Karlina.
Sedikit berlari ketika sampai di tepi jalan. Dan memberhentikan taksi.
Di dalam taksi hatiku kembali kalut. Dibelakang taksi yang ku tumpangi ada sebuah bmw hitam yang seperti mengikutiku. Tapi aku mencoba tak peduli dan tak menghiraukan kembali mobil itu dengan memejamkan mata.



Aku tiba dirumah menjelang sore. Ketika taksi itu melaju kembali, betapa kagetnya aku melihat mobil yang tadi mengikutiku berada diseberang rumahku. Ku perhatikan mobil itu. tak ada tanda-tanda seseorang akan keluar. Samar yang kulihat disana seorang lelaki yang menatapku. Aku tak melihat jelas wajahnya karena matanya tertutupi kacamata hitam. Aku bergidik sekilas, lalu tanpa piker panjang segera menuju rumah.
.
.
.
.
.


Pagi menjelang,suasana rumah sedikit hening. aku keluar dari kamar sudah dengan keadaan rapi.Bersiap untuk sarapan.


“ayo dek, sarapan dulu..’’ibu datang membawa mangkok besar berisikan nasi goreng.

“ayah dan adik kemana bu?”

“ayah masih tidur, hari ini dia cuti kerja. Kalau adikmu dia masih mandi.” Jawab ibu sambil menyicikan susu ke gelas-gelas.

Aku mendudukan tubuhku di kursi meja makan, mencomoti roti dan meminum susu.
“bu hari ini aku mau belajar bareng sama Adit di perpus kota.” Aku berbicara sambil menyantap nasi goreng.

“Pacarmu itu ya? Kenapa ga disini aja?”

“katanya sambil cari-cari buku disana..”

Ibu mengangguk-anggukan kepala. “ dek, bagaimana keadaan Anhar?.”

Deg…

Nama itu,

Orang yang dulu ku cintai…

Hingga sekarang…

“ba-baik kok Bu,” jawab ku singkat sambil terbata. Entahlah kenapa ibu malah mengungkit dia.
“yaudah bu aku berangkat ya… bye.” Aku menyambar tas dan berjalan cepat menuju pintu rumah.
.
.
.
.
Hari ini kelasku praktek komputer. Dan sekarang aku dan teman-teman berada di Lab. Berbincang-bincang sebelum Pa Joseph datang.


“gue makin takut aja ih akhir-akhir ini gegara kematiannya Karlina. sekolah kita jadi keliatan angker “ aku mendengar suara Nanda yang berada dibelakangku. Sedang berbisik dengan Fahmi tapi masih terdengar jelas oleh ku.

“menurut lo, siapa yang ngelakuin ini?” Fahmi menyahut.

“menurut gue ya, ga mungkin kalo orang luar. Sekolah ini kan ketat banget pengawasannya, “

“nah itu dia,” fahmi menjentikan jari, “sekolah ini keamanan nya ketat banget, setiap ruangan dan lorong ada cctv. And,aneh nya pas kejadian Aldo juga Karlina tuh cctv mati gitu aja. pastinya ada yang membobol tuh cctv sewaktu kejadian itu.” Ucap Fahmi bersungut-sungut tatkala membeberkan analisa yang menurutku ada benarnya.

Aku terus mendengarkan mereka berbicara sambil berpura-pura mengutak-atik computer.

“Nda,sebenernya soal pembunuhan itu gue tau sesuatu. tapi…..” fahmi menggantungkan kalimat antara ragu dan bimbang untuk menjelaskannya.

“sesuatu apa Mi? ayolah cerita ke gue..gue janji ga bakalan kasih tau siapa-siapa.” Ucap Nanda penasaran. Tak ada jawaban dari Fahmi. Mungkin dia ragu.

“gue sbenernya ngeliat langsung orang yang membunuh Karlina.” ucap Fahmi dengan sangat pelan.

Aku mendongakkan kepalaku. kaget ketika mendengar ucapan Fahmi, aku penasaran. Perlahan aku menegakkan badan dan menajamkan pendengaranku. Masih membelakangi mereka. Mereka –Nanda dan Fahmi- tak menyadari jika sedari tadi aku mendengarkan pembicaraannya.

“siapa?” nanda bertanya.

“dia-“ brakkkk… sebelum Fahmi meneruskan ucapannya, Pak Joseph datang.


“maaf sedikit telat. Mari kita mulai, hari ini kita akan mencoba mendesain blog..”
Semua hening mendengar penjelasan dan Pak Joseph dan mulai berkutat dengan computer masing-masing. Nanda dan Fahmi berhenti berbicara. ‘hah padahal dikit lagi aku mengetahuinya’.
.
.
.
.
jam istirahat tiba. Aku keluar membawa setumpuk buku tugas kelasku. Pa Agus menyuruhku menyimpannya di ruang guru. 
setelah aku nenyimpannya aku bergegas pergi dari ruang guru. megedarkan pandangan ke penjuru lorong sambil berjalan menuju kantin. Sunyi.

Ya tiga hari setelah insiden Karlina itu, keadaan sekolah cukup memburuk. Kebanyakan siswa enggan untuk meninggalkan ruangan kelasnya walaupun pada jam istirahat. Toilet untuk murid perempuan pun sekarang dipindahkan ke toilet guru sementara pasca kejadian itu. karena toilet perempuan masih disegel oleh pihak sekolah dan polisi. Polisi masih menyelidiki kasus ini dan belum ada kepastian.


brukkk....

"awww.." aku mendesis sakit. Tubuhku menabrak sesuatu diihadapanku sehingga aku terjatuh. 

"Kau tak apa?" ku dongakkan kepalaku. Ternyata aku menabrak Anhar.

"E-eh iya. maaf ya aku tadi melamun jadi ga lihat hehe.." jawabku terbata. Dan bergegas pergi.



Dia Anhar. Mantan pacarku. Aku berpacaran semenjak masuk SMA. dulu, ketika kelas satu kami sekelas. ketika masa pacaran, dia sungguh perhatian padaku, mengantar jemputku, setiap akhir pekan atau liburan
selalu mengajakku berkencan. Berbeda dengan Adit yang sedikit dingin dan agak kaku. satu tahun aku berpacaran dengannya, tetapi sayang aku dan dia harus mengakhiri hubungan ketika menginjak kelas dua. dia terlalu posesif, cemburuan dan terlalu mengekangku. Entahlah apa yang terjadi. tapi sifat itu dimulai dua bulan sebelum putus. dia jadi berlebihan dan selalu mengikutiku kemanapun, kadang selalu marah ketika aku pergi tanpa pamit padanya atau dekat dengan cowok lain sekalipun itu Aldo yang notabene nya adalah sahabatku. aku frustasi dan menjadi risih jadinya. akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri hubungan ini. dia menyetujuinya walau berat. Dan setelah putus, dia menjadi sesosok yang misterius. aku jarang melihatnya disekolah.



Satu hal yang tak pernah berubah dariku ketika melihatnya.....


aku selalu berdebar....


aku masih mencintainya.....


sampai saat ini.



to be continue.........

hayy hay ketemu lagi sama gue wkwkwk
entahlah setan apa yang merasuki pikiran gue sampe buat yang ginian. hehe

ceritanya gajekah? jelek? atau gampang ketebak?

plis komen okeyyyyyy....















Tidak ada komentar:

Posting Komentar