Malam
dibalik kegelapan
Pagi yang cukup mendung. Awan-awan
hitam menyelinap keseluruh bagian kota. Udara yang dingin menggelitik setiap insane
yang berlalu-lalang ditepian jalan. Tak ketinggalan kendaraan-kendaraan dari
bus hingga sepeda motor yang setia berseliweran di kota kecil ini.
Deba, pelajar 17 tahun ini
menyusuri jalanan kota langkah demi langkah. Wajahnya terlihat murung hari ini.
Oh, sebenarnya hampir setiap hari dia seperti itu. tak ada raut kebahagian yang
tampak di wajah gadis ini. Selalu seperti ini, sendirian berjalan menuju ke
tempat yang paling ia benci.
.
.
.
SEKOLAH
.
.
Ya, tempat terlaknat dan paling
ia benci adalah sekolahnya sendiri. Oh, tentu bukan karena ia malas belajar. Tetapi…..
“ BRUKKKK..”
“ PLOKKK..”
“BYURRRRRRRRR…”
Butiran tepung, telur dan air
mengguyur sekujur tubuh Deba. Ditambah dengan baluran minyak ikan yang baunya
sangat menyengat. Dirinya bersimbah dilantai diam tak kuasa tuk berdiri. Gelak tawa
disekelilng bergema bak sedang menonton komedi. Hanya segelintir orang yang yang
diam. Antara kasihan dan takut. takut jika ia menolongnya akan mendapat
masalah.
“ha ha ha semuanya dengar…. Adonan
kue tinggal di oven!!! “ seru seorang gadis. Gelak tawa kembali ricuh ditambah
tepukan tangan.
Yap selalu seperti ini. Sekolah terbaik
yang katanya menjunjung tinggi hak persamaan derajat hanyalah omong kosong
belaka. Siswa-siswa di SMA ini layaknya seekor hewan buas yang siap memangsa
siapa saja yang berbeda dengannya. Tak ka nada ang mampu menangkar hewan buat
itu tak terkecuali guru-gurunya.
Itulah yang membuat Deba sungguh
membenci sekolah ini. Guru yang seharusnya memberi pelajaran kepada muridnya, disini hanya
kemustahilan. Justru disekolah ini para gurulah yang bertekuk lutut pada
muridnya.
Kenapa?
Karena sialnya sekolah ini adalah
sekolah nya para orang-orang kaya ternama dan penguasa saham sekolah. Jika mereka
mendapat hukuman dari guru,dengan mudahnya mereka mengadu kepada orangtuanya. Dan
dalam waktu yang singkat guru yang bersangkutan akan didepak dari sekolah mau
tak mau.
Pembulian dan kekerasan pelajar
sungguh sudah menajdi hal lumrah. Mengadu kepada guru pun akan sia-sia saja. Para
guru hanya akan menggeleng prihatin tak dapat membantu. Dan satu-satunya jalan
terakhir tuk menghindar dari ini adalah
Keluar dari sekolah ini…
Sudah tak terhitung lagi jumlah
murid yang keluar dari sekolah ini dengan alasan tak tahan dengan
murid-muridnya ataupun gara-gara pembulian.. orang yang selalu menjadi incaran
pembulian antara lain pertama adalah orang yang miskin, kedua adalah oang yang
lemah dan cupu, ketiga adalah orang yang bodoh. Factor ini sangat banyak
korbannya karena siapa saja yang nilai ulangannya paling kecil akan di bully
dan di siksa. Tak peduli itu adalah teman dekatmu. Dan yang terakhir adalah
golongan yang membela golongan miskin,cupu,dan bodoh. Mereka menyebutnya “si so
pemberani” so menjadi pahlawan bagi kaum lemah.
Dan golongan terakhir salah
satunya adalah Deba. Ah, bukan salah satunya tapi memang satu-satunya karena
teman-teman seperjuangannya telah keluar dari sekolah ini karena sudah tak
tahan.
Deba sebenarnya orang yang
berkecukupan, ia cerdas dan juga cantik. ayahnya adalah seorang dokter. Tetapi karena
ia selalu menolong dan membela orang-orang lemah, membuatnya menjadi bahan
bulllyan teman-temannya.
Keluar dari sekolah ini?
Ck, dia cukup tau diri hal itu
akan membuat kedua orangtuanya repot.
Dan sekarang disinilah ia,
sendirian tanpa orang yang membantu. Orang-orang sudah mulai pergi karena bel
yang sudah berbunyi.
Deba bertemu pandang dengan Mutia
yang sedari tadi terdiam.
“Mutiaaaa…” ucapnya lirih meminta
bantuan kepada teman sekelasnya ang prihatin akan nasib dirinya.
“hiksss- deba maafkan aku,aku tak
bisa membantumu –hiks- aku takut” Setelah mengucapkan itu dirinya langsung
berlari sambil menangis. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa selain diam karena
dia takut dirinya akan bernasib sama seperti Deba.
Ingin rasanya Deba menangis, tapi
dia terlalu lelah tuk menangis. Sudah cukup banyak air mata yang keluar
sia-sia. Bau badan dari telur dan minyak ikan sangat menyengat ditubuhnya.
PLUKK
Sebuah tangan kekar bertengger di
bahu Deba, ternyata itu adalah Fajar. Dokter magang yang bekerja di UKS sekolah
ini. Sesosok pria hangat yang mengerti akan keadaan dirinya selain orangtuanya.
“kau tidak apa-apa? “ Tanya Fajar.
Deba hanya menggeleng tanda ia tidak baik-baik saja.
“ayo ikut aku..” Deba hanya pasrah
tatkala lengannya ditarik oleh Fajar menuju UKS.
UKS
“kau yakin tidak apa-apa?” Tanya pria
itu sekali lagi. Kini wajah gadis itu sudah bersih walaupun bau nya masih
terasa.
“kau tau jawabannya, tak usah
bertanya lagi.” Ketus Deba. Sedikit kesal ketika pacarnya terus bertanya ini
itu.
“maafkan aku, aku bukan pacar yang
baik. Haruskah kita pindah dari sekolah ini? Memulai hidup baru dengan lebih
baik..” Tanya sang pria sambil memeluk tubuh gadisnya.
“tidak. Oran-orang menyebutku
pengecut, tapi lebih pengecut lagi jika aku lari dari masalah ini dengan pindah
dari sekolah. Tunggulah hingga aku
benar-benar lelah.” Lirihnya dipelukkan sang pria. Matanya mulai berkaca-kaca
siap meluncurkan air mata.
“menagislah… menangislah jika itu
membuatmu lebih tenang. Jang kau tahan air matamu. Aku berjanji akan selalu
disampingmu menampung seluruh kepedihan yang kaurasakan.”
“hikkssssss…” akhirnya pertahanan
sang gadis runtuh. Tangisan pilu menggema di ruang uks. Tak peduli jas yang ia
pakai pakai basah oleh air mata pacarnya.
“Apakah aku bau?” Tanya Deba sesaat
setelah berhenti menangis.
“tidak kau harum..” canda sang pria
“hmm terlihat sekali kau berbohong”
sarkasnya
“tidak,aku benar-benar berkata
jujur. Karena bau badanmu yang sekarang bukanlah bau aslimu. Bau badanmu yang
sebenarnya bagaikan mawar biru ditepi sungai. Dan kecantikamu melebih
Renggogeni si anak mangkudun.” Gombal sang pria
“wahhh gombalanmu sudah meningkat
rupanya.HAHAHA”
Dan untuk pertama kalinya dalam
jangka waktu yang lama ia dapat melihat kembali tawa bahagia dari pacarnya.
CEKLEK….
Pintu terbuka dan semua mata tertuju
kearah pintu. Deba, gadis itu dengan pelan menutup kembali pintu member hormat
kepada guru ynag mengajar kemudian berjalan ketempat duduknya dipaling
belakang. Semua mata menatap sinis gadis itu.
“AH apakah disini ada yang kentut? Baunya
sungguh busuk.” Ucap Vina sengaja dengan maksud menyindir Deba.
“uhhh hidungku sepertinya akan
irirtasi” timbal Nela berlebihan dengan gerakan mengibas-ngibaskan tangan
dihidungnya. Gelak tawa menggema diseluruh penjuru kelas.
Vina, Nela, Hasan, ipan dan Reza
adalah sekelompok orang yang sering membully Deba dengan parah. Dan tentu
insiden tadi pagi adalah ulah dari mereka berlima. Deba menatap lurus kearah
papan tulis. Mencoba menghiraukan ucapan mereka. Terlalu lelah jika meluapkan
emosinya.
Pagi yang cerah. Mobil sedan itu
berhenti sejenak tepat digerbang sekolah. Deba, gadis itu kemudian turun
bersama dengan fajar yang ternyata mengantarnya. Tiba-tiba datang seorang
polisi bersama kawanannya mencegat sang gadis.
“Bisa kau ikut kami nak?” Tanya polisi
itu. Deba menatap bingung Fajar meminta penjelasan yang dibalas dengan gelengan
kepala tanda tak mengerti juga.
“memangnya ada pak?” Tanya Fajar
“telah terjadi sesuatu disekolah ini
dan saya butuh bukti dan saksi.”jawab polisi kemudian langsung meggiring Deba.
Sampai dilorong sekolah, Deba
melihat banyak tatapan menyelidik,sinis dan takut kepada dirinya. Semakin bingung
ketika teman-temannya seperti membicarakan dirinya. Dalam kebingungan tersebut
kemudian datanglah Sophia yang notabene nya sama-sama pembully Deba.
“kauuuu…. Kau kan yang melakukan
ini?” bentak Sophia dengan tangannya yang mencekik deba.
“apa yang telah aku lakukan huh..”
jawabnya mencoba melepaskan cengkraman Sophia.
“alah jangan so polos deh. Dasar pembunuh..”
bentaknya lagi
“ apa? Pembu……”
“sduah-sudah, kau jangan suka
menuduh orang sembarangan ya.” Potong pak polisi sambil menasehati Sophia. Kemudian
melanjutkan perjalanan.
“pak apa yang dia maksud? Siapa yang
pembunuh?” Tanya Deba bingung.
“nanti kau akan mengetahuinya.”
Dan sampailah ia dibelakang sekolah.
Riungan siswa siswi berkumpul membentuk lingkaran melihat ke suatu objek. Deba
sang polisi bergerak semakin mendekat ke objek tersebut dan sungguh kagetnya
ternyata terdapat lima mayat berjejer dengan tubuh yang sudah tak berbentuk.
Darah membasahi rerumputan taman belakang tak lupa bau menyengat dari darah
segar yang sebentar lagi siap membusuk.sungguh tak percaya Vina, Nela, hasan,
ipan dan Reza meninggal secara mengenaskan. Pak polisi yang meyadari kekagetan
Deba langsung menggring ke tepi taman.
“Tadi pagi bapak mendapat laporan
dari security sekolah ini bahwa beliau menemukan mayat di belakang sekolah. Saya
langsung pergi ke TKP dan sungguh kagetnya. Ternyata mayat-mayat itu sudah tak
berbentuk lagi rupanya. Mayat pertama kepala nya pecah diduga pelaku memukulnya
dengan batu. Mayat kedua lehernya di lilitkan kawat panas dan bola matanya
keluar. Mayat ketiga diduga diestrum oleh kabel dan lehernya patah. Dan untuk
dua mayat terakhir organ dalamnya keluar diduga dikadek menggunakan
tapak.kejadian ini diduga berlangsung pada petang hari. dan orang yang terakhir
yang berada disekolah adalah kau, dan juga kelima mayat itu dullunya sering
membully mu.” Ucap polisi panjang.
“tapi pak saya tidak melakukannya
pak sungguh. Aku langsung pulang ketika pacarku menjemputku.” Elaknya.
“iya tenang, saya tidak mencurigai
anda. Tapi apakah kau melihat orang selain kau disana?” Tanya polisi hati-hati
“tidak tau pak. Soalnya saya
menunggu pacar saya dari uks di gerbang depan. Tapi pak apakah tak ada barang
bukti sidik jari atau CCTV?” Tanya Deba penasaran
“sialnya pelaku melakukan hal itu
sangat apik. Tak ada barang bukti dan sidik jari bersih.” Sesal polisi
Kemudian tiba-tiba datang fajar
berlari tergopoh-gopoh menuju Deba.
“sayang apakau tau ini milik siapa?”
ucap Fajar sambil menyodorkan sebuah kalung emas.
“aku menemukannya di rerumputan
dekat mayat Vina,” ucapnya sekali lagi.
Deba tahu betul ini kalung siapa.
Dalam bandulnya terdapat huruf M, yang berarti ini adalah milik Mutia.
END
YUHUUUUU welcome back ya, lama tak
berjumpa. Kayaknya nih blog udah using dimakan usia deh.
Gue pengen banget sebenernya
ngurusin nih blog. Tapi apalah daya, gue hanyalah seorang pelajar dijaman Kurtilas
dimana tugas yang menumpuk menjadi makanan sehari-hari
BIG THANKS to my bestfriend ADITYA
FIRDANSYAH yang sudah memotivasi saya buat nulis nih cerpen. Sebenernya nih
cerpen udah beberapa hari yang lalu dibuat. Untuk tugas bahasa Indonesia yang
disruh buat cerpen. Dan jadilah iniiiihhh
Berantakan?
Ga nyambung?
Banyak typo?
Maafkan L saya hanya manusia iasaa yang
tak luput dari kesalahan.
Terimaksih juga buat temen-temen
kelas gue yang udah rela namanya dipake di cerpen ini. Hahaha\
Sorry kebangetan buat NENG VINA yang
namanya dinistain di cerpen ini hehehe..
Terakhir….. jangan lupa untuk
comment ya. Comment an anda sangat berpengaruh buat mood nulis saya.
Akhir kata wassalam
:'D anjayyy
BalasHapusnaon dit geura review cerpen urang atuh meh apal mana nu salah
BalasHapus