Sabtu, 05 September 2015

CERPEN ABSURD



Malam dibalik kegelapan

Pagi yang cukup mendung. Awan-awan hitam menyelinap keseluruh bagian kota. Udara yang dingin menggelitik setiap insane yang berlalu-lalang ditepian jalan. Tak ketinggalan kendaraan-kendaraan dari bus hingga sepeda motor yang setia berseliweran di kota kecil ini.
Deba, pelajar 17 tahun ini menyusuri jalanan kota langkah demi langkah. Wajahnya terlihat murung hari ini. Oh, sebenarnya hampir setiap hari dia seperti itu. tak ada raut kebahagian yang tampak di wajah gadis ini. Selalu seperti ini, sendirian berjalan menuju ke tempat yang paling ia benci.
.
.
.
SEKOLAH
.
.
Ya, tempat terlaknat dan paling ia benci adalah sekolahnya sendiri. Oh, tentu bukan karena ia malas belajar. Tetapi…..


“ BRUKKKK..”
“ PLOKKK..”
“BYURRRRRRRRR…”

Butiran tepung, telur dan air mengguyur sekujur tubuh Deba. Ditambah dengan baluran minyak ikan yang baunya sangat menyengat. Dirinya bersimbah dilantai diam tak kuasa tuk berdiri. Gelak tawa disekelilng bergema bak sedang menonton komedi. Hanya segelintir orang yang yang diam. Antara kasihan dan takut. takut jika ia menolongnya akan mendapat masalah.

“ha ha ha semuanya dengar…. Adonan kue tinggal di oven!!! “ seru seorang gadis. Gelak tawa kembali ricuh ditambah tepukan tangan.

Yap selalu seperti ini. Sekolah terbaik yang katanya menjunjung tinggi hak persamaan derajat hanyalah omong kosong belaka. Siswa-siswa di SMA ini layaknya seekor hewan buas yang siap memangsa siapa saja yang berbeda dengannya. Tak ka nada ang mampu menangkar hewan buat itu tak terkecuali guru-gurunya.
Itulah yang membuat Deba sungguh membenci sekolah ini. Guru yang seharusnya memberi  pelajaran kepada muridnya, disini hanya kemustahilan. Justru disekolah ini para gurulah yang bertekuk lutut pada muridnya.

Kenapa?

Karena sialnya sekolah ini adalah sekolah nya para orang-orang kaya ternama dan penguasa saham sekolah. Jika mereka mendapat hukuman dari guru,dengan mudahnya mereka mengadu kepada orangtuanya. Dan dalam waktu yang singkat guru yang bersangkutan akan didepak dari sekolah mau tak mau.

Pembulian dan kekerasan pelajar sungguh sudah menajdi hal lumrah. Mengadu kepada guru pun akan sia-sia saja. Para guru hanya akan menggeleng prihatin tak dapat membantu. Dan satu-satunya jalan terakhir tuk menghindar dari ini adalah

Keluar dari sekolah ini…

Sudah tak terhitung lagi jumlah murid yang keluar dari sekolah ini dengan alasan tak tahan dengan murid-muridnya ataupun gara-gara pembulian.. orang yang selalu menjadi incaran pembulian antara lain pertama adalah orang yang miskin, kedua adalah oang yang lemah dan cupu, ketiga adalah orang yang bodoh. Factor ini sangat banyak korbannya karena siapa saja yang nilai ulangannya paling kecil akan di bully dan di siksa. Tak peduli itu adalah teman dekatmu. Dan yang terakhir adalah golongan yang membela golongan miskin,cupu,dan bodoh. Mereka menyebutnya “si so pemberani” so menjadi pahlawan bagi kaum lemah.

Dan golongan terakhir salah satunya adalah Deba. Ah, bukan salah satunya tapi memang satu-satunya karena teman-teman seperjuangannya telah keluar dari sekolah ini karena sudah tak tahan.
Deba sebenarnya orang yang berkecukupan, ia cerdas dan juga cantik. ayahnya adalah seorang dokter. Tetapi karena ia selalu menolong dan membela orang-orang lemah, membuatnya menjadi bahan bulllyan teman-temannya.
Keluar dari sekolah ini?
Ck, dia cukup tau diri hal itu akan membuat kedua orangtuanya repot.

Dan sekarang disinilah ia, sendirian tanpa orang yang membantu. Orang-orang sudah mulai pergi karena bel yang sudah berbunyi.
Deba bertemu pandang dengan Mutia yang sedari tadi terdiam.

“Mutiaaaa…” ucapnya lirih meminta bantuan kepada teman sekelasnya ang prihatin akan nasib dirinya.

“hiksss- deba maafkan aku,aku tak bisa membantumu –hiks- aku takut” Setelah mengucapkan itu dirinya langsung berlari sambil menangis. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa selain diam karena dia takut dirinya akan bernasib sama seperti Deba.

Ingin rasanya Deba menangis, tapi dia terlalu lelah tuk menangis. Sudah cukup banyak air mata yang keluar sia-sia. Bau badan dari telur dan minyak ikan sangat menyengat ditubuhnya.

PLUKK

Sebuah tangan kekar bertengger di bahu Deba, ternyata itu adalah Fajar. Dokter magang yang bekerja di UKS sekolah ini. Sesosok pria hangat yang mengerti akan keadaan dirinya selain orangtuanya.

“kau tidak apa-apa? “ Tanya Fajar. Deba hanya menggeleng tanda ia tidak baik-baik saja.
“ayo ikut aku..” Deba hanya pasrah tatkala lengannya ditarik oleh Fajar menuju UKS.

UKS

“kau yakin tidak apa-apa?” Tanya pria itu sekali lagi. Kini wajah gadis itu sudah bersih walaupun bau nya masih terasa.

“kau tau jawabannya, tak usah bertanya lagi.” Ketus Deba. Sedikit kesal ketika pacarnya terus bertanya ini itu.

“maafkan aku, aku bukan pacar yang baik. Haruskah kita pindah dari sekolah ini? Memulai hidup baru dengan lebih baik..” Tanya sang pria sambil memeluk tubuh gadisnya.

“tidak. Oran-orang menyebutku pengecut, tapi lebih pengecut lagi jika aku lari dari masalah ini dengan pindah dari sekolah.  Tunggulah hingga aku benar-benar lelah.” Lirihnya dipelukkan sang pria. Matanya mulai berkaca-kaca siap meluncurkan air mata.

“menagislah… menangislah jika itu membuatmu lebih tenang. Jang kau tahan air matamu. Aku berjanji akan selalu disampingmu menampung seluruh kepedihan yang kaurasakan.”

“hikkssssss…” akhirnya pertahanan sang gadis runtuh. Tangisan pilu menggema di ruang uks. Tak peduli jas yang ia pakai pakai basah oleh air mata pacarnya.



“Apakah aku bau?” Tanya Deba sesaat setelah berhenti menangis.

“tidak kau harum..” canda sang pria

“hmm terlihat sekali kau berbohong” sarkasnya

“tidak,aku benar-benar berkata jujur. Karena bau badanmu yang sekarang bukanlah bau aslimu. Bau badanmu yang sebenarnya bagaikan mawar biru ditepi sungai. Dan kecantikamu melebih Renggogeni si anak mangkudun.” Gombal sang pria

“wahhh gombalanmu sudah meningkat rupanya.HAHAHA”
Dan untuk pertama kalinya dalam jangka waktu yang lama ia dapat melihat kembali tawa bahagia dari pacarnya.


CEKLEK….

Pintu terbuka dan semua mata tertuju kearah pintu. Deba, gadis itu dengan pelan menutup kembali pintu member hormat kepada guru ynag mengajar kemudian berjalan ketempat duduknya dipaling belakang. Semua mata menatap sinis gadis itu.

“AH apakah disini ada yang kentut? Baunya sungguh busuk.” Ucap Vina sengaja dengan maksud menyindir Deba.

“uhhh hidungku sepertinya akan irirtasi” timbal Nela berlebihan dengan gerakan mengibas-ngibaskan tangan dihidungnya. Gelak tawa menggema diseluruh penjuru kelas.

Vina, Nela, Hasan, ipan dan Reza adalah sekelompok orang yang sering membully Deba dengan parah. Dan tentu insiden tadi pagi adalah ulah dari mereka berlima. Deba menatap lurus kearah papan tulis. Mencoba menghiraukan ucapan mereka. Terlalu lelah jika meluapkan emosinya.




Pagi yang cerah. Mobil sedan itu berhenti sejenak tepat digerbang sekolah. Deba, gadis itu kemudian turun bersama dengan fajar yang ternyata mengantarnya. Tiba-tiba datang seorang polisi bersama kawanannya mencegat sang gadis.

“Bisa kau ikut kami nak?” Tanya polisi itu. Deba menatap bingung Fajar meminta penjelasan yang dibalas dengan gelengan kepala tanda tak mengerti juga.

“memangnya ada pak?” Tanya Fajar
“telah terjadi sesuatu disekolah ini dan saya butuh bukti dan saksi.”jawab polisi kemudian langsung meggiring Deba.

Sampai dilorong sekolah, Deba melihat banyak tatapan menyelidik,sinis dan takut kepada dirinya. Semakin bingung ketika teman-temannya seperti membicarakan dirinya. Dalam kebingungan tersebut kemudian datanglah Sophia yang notabene nya sama-sama pembully Deba.

“kauuuu…. Kau kan yang melakukan ini?” bentak Sophia dengan tangannya yang mencekik deba.

“apa yang telah aku lakukan huh..” jawabnya mencoba melepaskan cengkraman Sophia.

“alah jangan so polos deh. Dasar pembunuh..” bentaknya lagi

“ apa? Pembu……”

“sduah-sudah, kau jangan suka menuduh orang sembarangan ya.” Potong pak polisi sambil menasehati Sophia. Kemudian melanjutkan perjalanan.

“pak apa yang dia maksud? Siapa yang pembunuh?” Tanya Deba bingung.
“nanti kau akan mengetahuinya.”



Dan sampailah ia dibelakang sekolah. Riungan siswa siswi berkumpul membentuk lingkaran melihat ke suatu objek. Deba sang polisi bergerak semakin mendekat ke objek tersebut dan sungguh kagetnya ternyata terdapat lima mayat berjejer dengan tubuh yang sudah tak berbentuk. Darah membasahi rerumputan taman belakang tak lupa bau menyengat dari darah segar yang sebentar lagi siap membusuk.sungguh tak percaya Vina, Nela, hasan, ipan dan Reza meninggal secara mengenaskan. Pak polisi yang meyadari kekagetan Deba langsung menggring ke tepi taman.

“Tadi pagi bapak mendapat laporan dari security sekolah ini bahwa beliau menemukan mayat di belakang sekolah. Saya langsung pergi ke TKP dan sungguh kagetnya. Ternyata mayat-mayat itu sudah tak berbentuk lagi rupanya. Mayat pertama kepala nya pecah diduga pelaku memukulnya dengan batu. Mayat kedua lehernya di lilitkan kawat panas dan bola matanya keluar. Mayat ketiga diduga diestrum oleh kabel dan lehernya patah. Dan untuk dua mayat terakhir organ dalamnya keluar diduga dikadek menggunakan tapak.kejadian ini diduga berlangsung pada petang hari. dan orang yang terakhir yang berada disekolah adalah kau, dan juga kelima mayat itu dullunya sering membully mu.” Ucap polisi panjang.


“tapi pak saya tidak melakukannya pak sungguh. Aku langsung pulang ketika pacarku menjemputku.” Elaknya.

“iya tenang, saya tidak mencurigai anda. Tapi apakah kau melihat orang selain kau disana?” Tanya polisi hati-hati

“tidak tau pak. Soalnya saya menunggu pacar saya dari uks di gerbang depan. Tapi pak apakah tak ada barang bukti sidik jari atau CCTV?” Tanya Deba penasaran

“sialnya pelaku melakukan hal itu sangat apik. Tak ada barang bukti dan sidik jari bersih.” Sesal polisi

Kemudian tiba-tiba datang fajar berlari tergopoh-gopoh menuju Deba.

“sayang apakau tau ini milik siapa?” ucap Fajar sambil menyodorkan sebuah kalung emas.
“aku menemukannya di rerumputan dekat mayat Vina,” ucapnya sekali lagi.

Deba tahu betul ini kalung siapa. Dalam bandulnya terdapat huruf M, yang berarti ini adalah milik Mutia.


END
YUHUUUUU welcome back ya, lama tak berjumpa. Kayaknya nih blog udah using dimakan usia deh.

Gue pengen banget sebenernya ngurusin nih blog. Tapi apalah daya, gue hanyalah seorang pelajar dijaman Kurtilas dimana tugas yang menumpuk menjadi makanan sehari-hari

BIG THANKS to my bestfriend ADITYA FIRDANSYAH yang sudah memotivasi saya buat nulis nih cerpen. Sebenernya nih cerpen udah beberapa hari yang lalu dibuat. Untuk tugas bahasa Indonesia yang disruh buat cerpen. Dan jadilah iniiiihhh
Berantakan?
Ga nyambung?
Banyak typo?

Maafkan L saya hanya manusia iasaa yang tak luput dari kesalahan.

Terimaksih juga buat temen-temen kelas gue yang udah rela namanya dipake di cerpen ini. Hahaha\
Sorry kebangetan buat NENG VINA yang namanya dinistain di cerpen ini hehehe..

Terakhir….. jangan lupa untuk comment ya. Comment an anda sangat berpengaruh buat mood nulis saya.


Akhir kata wassalam

2 komentar: